Suporter fanatik Persebaya 1927 atau yang biasa disebut Bonek, meminta
Komnas HAM turun tangan untuk menyelidiki kasus kerusuhan di Stadion
Gelora 10 Nopember Tambaksari.
Selain itu, bonek juga akan
menggandeng lebih 10 pengacara untuk memproses secara hukum kasus
kerusuhan yang menewaskan seorang Bonek, Purwo Adi Utomo alias Tommy,
akibat terinjak-injak sesama rekan suporter lainnya saat polisi
menembakan gas air mata.
"Kami mohon Komnas HAM untuk turun
tangan ke Surabaya," ujar Siti Nasyiah ,dedengkot Bonek dari Bonita
(Bonek Wanita), Sabtu (9/6/2012).
Wanita yang biasa disapa Ita ini mengatakan, selama ini Bonek tidak pernah dihargai sebagai manusia oleh aparat keamanan.
Ia
menegaskan, aparat bertindak arogan dan represif. Padahal, sebelum
kerusuhan itu, seusai pertandingan antara Persebaya 1927 versus Persija,
para bonek hanya ingin mengambil banner. Hal itu dinilainya sebuah
kewajaran, namun tindakan aparat kepolisian terlalu berlebihan.
"Kita akan membawa kasus ini dan menuntut sampai ke Jakarta," pungkasnya.
Kamis, 14 Juni 2012
Puluhan Bonek Peringati 7 Hari Kematian Purwo di Stadion Tambaksari
Puluhan suporter Persebaya 1927 (bonek) mendatangi Stadion Gelora 10
Nopember Tambaksari. Mereka bukan menyaksikan klub kesayangannya
bertanding, tapi menggelar doa memperingati 7 harinya Purwo Adi yang
tewas saat rusuh usai pertandingan Persebaya Vs Persija, pada Minggu
lalu.
Puluhan bonek menggelar doa dan tabur bungadi lorong atau pintu BB tribun ekonomi sisi selatan tribun utama. Dalam lorong tersebut menjadi tempat kejadian tewasnya Purwo Adi Utomo alias Tommy warga Babadan Rukun VI, yang terinjak-injak suporter lainnya yang menghindari dari tembakan gas air mata kepolisian.
Mereka juga menyalakan lilin di sepanjang anak tangga lorong BB. Selain menabur bunga dan menyalakan lilin, mereka juga membuat mural di dinding tersebut. Mural tersebut menggambarkan sepatu laras polisi yang menginjak bonek hingga tewas.
"Saya berharap darah terkahir menetes. Tidak boleh ada bonek yang masih belasan tahun menjadi korban. marilah kita berdoa, semoga arwah Purwo Adi Utomo pada hari ketujuh ini diterima disisi-Nya," ujar Cak Muji salah sat pentolan Bonek di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari, Jumat (7/6/2012).
Selain itu, Muji juga kejadian tersebut merupakan yang terkahir kali dan menjadikan pelajaran bagi semua pihak termasuk aparat keamanan kepolisian.
"Ini akibat ulah satu dua orang yang emosional hingga ini terjadi. Saya harap kepada aparat, hendaknya bisa sama-sama mengendalikan di lapangan, sama-sama menjaga dan saling menghargai dan menghormati," jelasnya.
Puluhan bonek menggelar doa dan tabur bungadi lorong atau pintu BB tribun ekonomi sisi selatan tribun utama. Dalam lorong tersebut menjadi tempat kejadian tewasnya Purwo Adi Utomo alias Tommy warga Babadan Rukun VI, yang terinjak-injak suporter lainnya yang menghindari dari tembakan gas air mata kepolisian.
Mereka juga menyalakan lilin di sepanjang anak tangga lorong BB. Selain menabur bunga dan menyalakan lilin, mereka juga membuat mural di dinding tersebut. Mural tersebut menggambarkan sepatu laras polisi yang menginjak bonek hingga tewas.
"Saya berharap darah terkahir menetes. Tidak boleh ada bonek yang masih belasan tahun menjadi korban. marilah kita berdoa, semoga arwah Purwo Adi Utomo pada hari ketujuh ini diterima disisi-Nya," ujar Cak Muji salah sat pentolan Bonek di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari, Jumat (7/6/2012).
Selain itu, Muji juga kejadian tersebut merupakan yang terkahir kali dan menjadikan pelajaran bagi semua pihak termasuk aparat keamanan kepolisian.
"Ini akibat ulah satu dua orang yang emosional hingga ini terjadi. Saya harap kepada aparat, hendaknya bisa sama-sama mengendalikan di lapangan, sama-sama menjaga dan saling menghargai dan menghormati," jelasnya.
Bonek Gelar Aksi Kecam Tindakan Arogan Polisi
Puluhan suporter Persebaya 1927 (bonek) menggelar aksi prihatin atas
meninggalnya Purwo Adi Utomo karena terinjak suporter yang menghindari
tembakan gas air dari polisi.
Selain itu, mereka juga mengecam tindakan arogan dan represif dari aparat kepolisian yang menembakkan gas air mata, hingga terjadi kericuhan.
"Kita mengecam tindakan represif aparat terhadap masyarakat sipil," kata humas aksi, Yudho, di sela-sela aksinya di depan patung Gubernur Suryo, Jalan Gubernur Suryo, Selasa (5/6/2012).
Ia menegaskan, para suporter juga warga negara Indonesia (WNI) yang memiliki identitas kartu tanda penduduk (KTP). Namun, menyayangkan sikap kepolisian yang arogan dan represif. Padahal, para suporter turun ke bibir lapangan, hanya untuk mencabut spanduk dukungannya ke Persebaya yang dipasang di pagar pembatas.
"Kami mengutuk tindakan polisi yang berlebihan. Stadion exitnya kecil, sedangkan massa dari dalam stadion jumlahnya banyak," ujarnya.
Selain mengecam aksi represif aparat kepolisian, puluhan bonek dari berbagai elemen suporter Persebaya 1927, juga menggelar aksi keprihatinan atas meninggalnya, Purwo Adi Utomo karena terinjak suporter yang menghindari tembakan gas air dari polisi, dengan memasang lilin berbentuk pita dan foto korban diletakkan di tengah lilin kemudian dilatar belakangi foto kejadian kemarin.
"Tujuannya teman-teman bonek khususunya masyarakat sipil, polisi benar-benar menjadi aparat seperti sologan polisi, sebagai pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat," jelasnya.
Dalam aksi tersebut, mereka juga menggelar teatrikal yang menggambarkan arogansi dan tindakan aparat yang represif, hingga menimbulkan korban jiwa.
Mereka juga menggelar spanduk yang bertuliskan diantaranya, 'Kami mengecam tindakan arogan & represif aparat', 'Jangan samakan kami dengan buronan'.
Selain itu, mereka juga mengecam tindakan arogan dan represif dari aparat kepolisian yang menembakkan gas air mata, hingga terjadi kericuhan.
"Kita mengecam tindakan represif aparat terhadap masyarakat sipil," kata humas aksi, Yudho, di sela-sela aksinya di depan patung Gubernur Suryo, Jalan Gubernur Suryo, Selasa (5/6/2012).
Ia menegaskan, para suporter juga warga negara Indonesia (WNI) yang memiliki identitas kartu tanda penduduk (KTP). Namun, menyayangkan sikap kepolisian yang arogan dan represif. Padahal, para suporter turun ke bibir lapangan, hanya untuk mencabut spanduk dukungannya ke Persebaya yang dipasang di pagar pembatas.
"Kami mengutuk tindakan polisi yang berlebihan. Stadion exitnya kecil, sedangkan massa dari dalam stadion jumlahnya banyak," ujarnya.
Selain mengecam aksi represif aparat kepolisian, puluhan bonek dari berbagai elemen suporter Persebaya 1927, juga menggelar aksi keprihatinan atas meninggalnya, Purwo Adi Utomo karena terinjak suporter yang menghindari tembakan gas air dari polisi, dengan memasang lilin berbentuk pita dan foto korban diletakkan di tengah lilin kemudian dilatar belakangi foto kejadian kemarin.
"Tujuannya teman-teman bonek khususunya masyarakat sipil, polisi benar-benar menjadi aparat seperti sologan polisi, sebagai pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat," jelasnya.
Dalam aksi tersebut, mereka juga menggelar teatrikal yang menggambarkan arogansi dan tindakan aparat yang represif, hingga menimbulkan korban jiwa.
Mereka juga menggelar spanduk yang bertuliskan diantaranya, 'Kami mengecam tindakan arogan & represif aparat', 'Jangan samakan kami dengan buronan'.
Ini Hukuman Komdis Untuk Persebaya
Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman larangan bermain selama
satu laga di Surabaya dan tanpa penonton bagi Persebaya Surabaya,
menyusul tewas salah seorang "Bonek", Purwo Adi Utomo, saat tim berjuluk
"Bajul Ijo" tersebut menjamu Persija Jakarta di Stadion Gelora 10
Nopember, Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (3/6/2012)."Mereka
tidak boleh main di Surabaya dan bermain tanpa penonton pada tanggal 13
Juni nanti," jelas Ketua Komisi Displin, Benhard Limbong.
Meski begitu, Limbong menyatakan, keputusan ini belum final karena Komdis baru meminta keterangan dari Panpel (Panitia Penyelenggara) dan Dityo Pramono selaku CEO Persebaya.
"Keputusan ini belum final dan kami juga belum menjatuhkan denda apapun untuk Persebaya. Soalnya, kami masih harus mencari informasi dari berbagai pihak lagi. Kami nanti akan memanggil Persebaya, perwakilan Bonek, dan Persija," beber Limbong.
Sebagaimana diberitakan, kericuhan di Surabaya terjadi saat laga memasuki menit akhir. Saat itu, para suporter Persebaya melakukan pelemparan ke lapangan dan bangku pemain cadangan. Beberapa suporter bahkan berusaha masuk ke lapangan.
Kejadian ini menimbulkan kericuhan antara "Bonek", penggemar fanatik Persebaya, dan polisi. Polisi berusaha menghalau massa yang sebagian besar berada di tribun ekonomi sisi selatan dengan menggunakan gas air mata. Akibatnya, ratusan Bonek berebut turun sambil berdesak-desakan. Korban diduga tewas terinjak-injak saat peristiwa itu berlangsung.
Meski begitu, Limbong menyatakan, keputusan ini belum final karena Komdis baru meminta keterangan dari Panpel (Panitia Penyelenggara) dan Dityo Pramono selaku CEO Persebaya.
"Keputusan ini belum final dan kami juga belum menjatuhkan denda apapun untuk Persebaya. Soalnya, kami masih harus mencari informasi dari berbagai pihak lagi. Kami nanti akan memanggil Persebaya, perwakilan Bonek, dan Persija," beber Limbong.
Sebagaimana diberitakan, kericuhan di Surabaya terjadi saat laga memasuki menit akhir. Saat itu, para suporter Persebaya melakukan pelemparan ke lapangan dan bangku pemain cadangan. Beberapa suporter bahkan berusaha masuk ke lapangan.
Kejadian ini menimbulkan kericuhan antara "Bonek", penggemar fanatik Persebaya, dan polisi. Polisi berusaha menghalau massa yang sebagian besar berada di tribun ekonomi sisi selatan dengan menggunakan gas air mata. Akibatnya, ratusan Bonek berebut turun sambil berdesak-desakan. Korban diduga tewas terinjak-injak saat peristiwa itu berlangsung.
Persembahan Persebaya untuk Bonekmania
Kemenangan
3-1 Persebaya Surabaya atas Persik Kediri dalam Babak Delapan Besar
Piala Indonesia di Stadion Brawijaya, Kediri, Kamis (7/6/2012),
dipersembahkan untuk anggota Bonekmania, Purwo Adi Utomo, yang tewas di
Stadion Tambaksari, Surabaya, beberapa waktu lalu.Hal ini disampaikan pelatih Persebaya, Divaldo Alves, seusai pertandingan.
"Kemenangan ini untuk bonek yang meninggal kemarin serta untuk seluruh Bonekmania yang tidak dapat menonton," kata Alves dalam konferensi pers sesaat seusai pertandingan.
Maklum saja, partai panas itu digelar tanpa penonton sehingga Bonekmania ataupun Persikmania tidak dapat memberikan dukungan secara langsung di lapangan.
Dalam pertandingan itu, dua dari tiga gol Persebaya ditorehkan striker andalannya Andik Vermansah pada menit ke-58 dan 84. Setiap melakukan selebrasi golnya, Andik membuka kausnya dan tertera tulisan "Pray For Bonek. Selamat Jalan Purwo Adi Utomo" pada kostum dalam putihnya.
Kemenangan itu disempurnakan dengan gol sepakan Feri Ariawan yang memanfaatkan kesalahpahaman lini belakang Persik pada menit ke-89. Satu-satunya gol "Macan Putih" dicetak Rendy Syahputra pada menit ke-69. Kemenangan itu praktis mengantarkan tiket Persebaya ke semifinal.
Di lain pihak, keputusan menggelar laga tanpa penonton adalah wujud kekhawatiran pihak kepolisian terhadap rawannya kerusuhan yang acap mengiringi partai tersebut di waktu-waktu yang lalu. Apalagi, pekan lalu ditemukan tiga suporter tewas di Jakarta yang disusul kerusuhan di Surabaya yang mengakibatkan satu suporter anggota Bonekmania meninggal dunia. Itulah yang menjadi bahan pertimbangan pihak kepolisian.
"Kemenangan ini untuk bonek yang meninggal kemarin serta untuk seluruh Bonekmania yang tidak dapat menonton," kata Alves dalam konferensi pers sesaat seusai pertandingan.
Maklum saja, partai panas itu digelar tanpa penonton sehingga Bonekmania ataupun Persikmania tidak dapat memberikan dukungan secara langsung di lapangan.
Dalam pertandingan itu, dua dari tiga gol Persebaya ditorehkan striker andalannya Andik Vermansah pada menit ke-58 dan 84. Setiap melakukan selebrasi golnya, Andik membuka kausnya dan tertera tulisan "Pray For Bonek. Selamat Jalan Purwo Adi Utomo" pada kostum dalam putihnya.
Kemenangan itu disempurnakan dengan gol sepakan Feri Ariawan yang memanfaatkan kesalahpahaman lini belakang Persik pada menit ke-89. Satu-satunya gol "Macan Putih" dicetak Rendy Syahputra pada menit ke-69. Kemenangan itu praktis mengantarkan tiket Persebaya ke semifinal.
Di lain pihak, keputusan menggelar laga tanpa penonton adalah wujud kekhawatiran pihak kepolisian terhadap rawannya kerusuhan yang acap mengiringi partai tersebut di waktu-waktu yang lalu. Apalagi, pekan lalu ditemukan tiga suporter tewas di Jakarta yang disusul kerusuhan di Surabaya yang mengakibatkan satu suporter anggota Bonekmania meninggal dunia. Itulah yang menjadi bahan pertimbangan pihak kepolisian.
Persebaya Pastikan Maju ke Semifinal LPI
Persebaya
dipastikan maju ke babak semi final Kompetisi Piala Indonesia Liga
Prima Indonesia Sportindo setelah berhasil menundukkan Persik Kediri
dengan skor 3-2 dalam laga partai usiran di Lapangan Sasana Krida yang
berada di dalam kompleks Akademi Angkatan Udara, Sleman, DI Yogyakarta,
Rabu (13/6/2012).Pertandingan tersebut tidak dihadiri oleh
suporter dari kedua kesebelasan, tetapi justru disaksikan oleh Kepala
staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat, sejumlah perwira tinggi
TNI AU, serta puluhan personel TNI AU.
Pertandingan babak pertama berlangsung seru dan ditutup dengan skor 2-1 setelah Fernando Soler mencetak dua gol untuk Persebaya dan Oliver Makor mencetak satu gol untuk Persik Kediri.
Memasuki babak kedua, tim Persebaya terpaksa menarik Fernando Soler setelah pemain tersebut memperoleh kartu kuning akibat bersitegang dengan Slamet Sampurno, pemain Persik Kediri.
Menjelang pertengahan babak kedua, Persebaya kembali menambah satu gol melalui Feri Ariawan. Untuk mengejar ketertinggalan, Persik Kediri meningkatkan serangan dan akhirnya mampu menghasilkan goal melalui tendangan bebas Oliver Makor.
Dalam pertandingan ini, Persebaya tidak menurunkan salah satu pemain andalannya, Andik Vermansyah. Persebaya selanjutnya akan bertanding melawan Persiba Bantul pada Sabtu akhir pekan ini.
Pertandingan babak pertama berlangsung seru dan ditutup dengan skor 2-1 setelah Fernando Soler mencetak dua gol untuk Persebaya dan Oliver Makor mencetak satu gol untuk Persik Kediri.
Memasuki babak kedua, tim Persebaya terpaksa menarik Fernando Soler setelah pemain tersebut memperoleh kartu kuning akibat bersitegang dengan Slamet Sampurno, pemain Persik Kediri.
Menjelang pertengahan babak kedua, Persebaya kembali menambah satu gol melalui Feri Ariawan. Untuk mengejar ketertinggalan, Persik Kediri meningkatkan serangan dan akhirnya mampu menghasilkan goal melalui tendangan bebas Oliver Makor.
Dalam pertandingan ini, Persebaya tidak menurunkan salah satu pemain andalannya, Andik Vermansyah. Persebaya selanjutnya akan bertanding melawan Persiba Bantul pada Sabtu akhir pekan ini.
Suporter Persebaya Tewas, Bonek Tuduh Polisi Lepas Tanggung Jawab
Setelah menggelar unjuk rasa di Monumen POLRI Jalan Raya Darmo dan
Polisi Istimewa, aksi puluhan bonek tak berhenti begitu saja. Massa yang
mengenakan atribut Persebaya ini juga mendatangi Mapolda Jatim untuk
meminta pertanggungjawaban.
Puluhan bonek merasa tidak layak diperlakukan seperti ini. Kasus kematian Purwo Adi Utomo saat pertandingan Persebaya melawan Persija di Gelora 10 Nopember pada 3 Juni 2012 diharap tidak bernasib seperti 5 bonek yang tewas di Lamongan.
"Bagaimana perkembangan soal pengusutan bukti dan tim pencari fakta terkait kematian Purwo Adi Utomo. Lha wong kematian 5 bonek di Lamongan aja tidak ada kejelasan dan sosialisasi dari lembaga kepolisian," kata salah satu perwakilan bonek di halaman Mapolda Jatim, Kamis (14/5/2012).
Sebanyak 5 perwakilan bonek akhirnya diperbolehkan hearing bersama Kepala Pelayanan Markas Polda Jatim. Namun tetap saja, massa bonek belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Kepala Pelayanan Markas Polda Jatim AKBP Rosa Tomasetiawati hanya bisa menegaskan bahwa polisi tidak mungkin lepas tanggung jawab. Hanya saja, tim pencari fakta butuh waktu dan proses untuk mengusut sebab dan kronologi kematian bonek.
"Pada prinsipnya, kami tidak mungkin lepas tanggung jawab. Buktinya saat peristiwa pertandingan digelar, kami ada pengamanan. Pasti ada pengusutan, tapi itu butuh proses dan butuh waktu," tutur AKBP Rosa Tomasetiawati.
Termasuk kasus kematian 5 bonek di Lamongan, lanjut dia. Bila sudah kejelasan dan kepastian, pihaknya meyakinkan pasti akan disampaikan melalui media massa.
"Yang saya tahu, proses masih berjalan. Kami sangat berhati-hati jangan sampai ada salah tindak, karena ini merupakan persoalan manusia bukan barang," jelasnya.
Sampai kapan? Polisi juga masih belum bisa memastikan. Bahkan ketika perwakilan bonek menawarkan waktu pada minggu depan sekitar hari Rabu (20/6/2012) atau Kamis (21/6/2012) mendatang massa akan datang kembali ke Mapolda Jatim, AKBP Rosa tak berani janji.
"Saya tidak bisa menjanjikan kapan, yang pasti kami (polisi) masih berproses dan itu butuh waktu," pungkas AKBP Rosa.
Diberitakan sebelumnya, seorang bonek tewas usai menonton pertandingan Persebaya melawan Persija di Gelora 10 Nopember pada 3 Juni 2012. Purwo Adi Utomo meninggal karena terinjak massa yang ricuh usai ditembak gas air mata oleh polisi.
Sebelum itu, 5 bonek juga tewas saat dalam perjalanan ke Lamongan. Saat itu, 5 suporter Persebaya bernama Miftahul Huda, Abdul Farid, Wahyu Hendra Cahyono, Saimul Fadli dan Sudarmadji berangkat menumpang kereta barang untuk menonton laga Persebaya di Bojonegoro tanggal 10 Maret 2012 silam.
Puluhan bonek merasa tidak layak diperlakukan seperti ini. Kasus kematian Purwo Adi Utomo saat pertandingan Persebaya melawan Persija di Gelora 10 Nopember pada 3 Juni 2012 diharap tidak bernasib seperti 5 bonek yang tewas di Lamongan.
"Bagaimana perkembangan soal pengusutan bukti dan tim pencari fakta terkait kematian Purwo Adi Utomo. Lha wong kematian 5 bonek di Lamongan aja tidak ada kejelasan dan sosialisasi dari lembaga kepolisian," kata salah satu perwakilan bonek di halaman Mapolda Jatim, Kamis (14/5/2012).
Sebanyak 5 perwakilan bonek akhirnya diperbolehkan hearing bersama Kepala Pelayanan Markas Polda Jatim. Namun tetap saja, massa bonek belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Kepala Pelayanan Markas Polda Jatim AKBP Rosa Tomasetiawati hanya bisa menegaskan bahwa polisi tidak mungkin lepas tanggung jawab. Hanya saja, tim pencari fakta butuh waktu dan proses untuk mengusut sebab dan kronologi kematian bonek.
"Pada prinsipnya, kami tidak mungkin lepas tanggung jawab. Buktinya saat peristiwa pertandingan digelar, kami ada pengamanan. Pasti ada pengusutan, tapi itu butuh proses dan butuh waktu," tutur AKBP Rosa Tomasetiawati.
Termasuk kasus kematian 5 bonek di Lamongan, lanjut dia. Bila sudah kejelasan dan kepastian, pihaknya meyakinkan pasti akan disampaikan melalui media massa.
"Yang saya tahu, proses masih berjalan. Kami sangat berhati-hati jangan sampai ada salah tindak, karena ini merupakan persoalan manusia bukan barang," jelasnya.
Sampai kapan? Polisi juga masih belum bisa memastikan. Bahkan ketika perwakilan bonek menawarkan waktu pada minggu depan sekitar hari Rabu (20/6/2012) atau Kamis (21/6/2012) mendatang massa akan datang kembali ke Mapolda Jatim, AKBP Rosa tak berani janji.
"Saya tidak bisa menjanjikan kapan, yang pasti kami (polisi) masih berproses dan itu butuh waktu," pungkas AKBP Rosa.
Diberitakan sebelumnya, seorang bonek tewas usai menonton pertandingan Persebaya melawan Persija di Gelora 10 Nopember pada 3 Juni 2012. Purwo Adi Utomo meninggal karena terinjak massa yang ricuh usai ditembak gas air mata oleh polisi.
Sebelum itu, 5 bonek juga tewas saat dalam perjalanan ke Lamongan. Saat itu, 5 suporter Persebaya bernama Miftahul Huda, Abdul Farid, Wahyu Hendra Cahyono, Saimul Fadli dan Sudarmadji berangkat menumpang kereta barang untuk menonton laga Persebaya di Bojonegoro tanggal 10 Maret 2012 silam.
Langganan:
Postingan (Atom)




